Mungkin kosmos ini memang terlalu luas dan kita memang lebih
kecil dari titik di hadapannya.
Mungkin
hukum kosmos memang terlalu superior dan kita (manusia) - selama ribuan tahun -
masih menyentuh kulit luarnya.
Mungkin,
di tengah kontemplasi, kita akan merasa tak berdaya di hadapan kosmos dan kita
memilih tenggelam dalam deras arusnya.
Banyak yang tenggelam. Banyak yang membiarkan dan menikmati
dirinya di bawah garis aktual. Sebagian tenggelam dalam keriuhan dan sebagian
tenggelam dalam kesenyapan. Riuh dan senyap jadi sama saja. Seperti kado,
sebagian membungkusnya dengan kertas bercorak dan sebagian lagi dengan kertas
sederhana. Tapi, siapa yang peduli isinya?
![]() |
| Ilustrasi Manusia Yang Bebas. Foto: gsja.org |
Kosmos hari ini mungkin seperti kado tanpa isi. Banyak dari
kita yang ingin menjadi sesuatu, tapi apapun itu, kita hanya ingin menjadi
bungkus kado. Sedikit sekali yang ingin menjadi isi. Lebih sedikit lagi adalah
mereka yang bukan hanya jadi isi, tapi jadi isi yang dirindukan oleh pemilik
kado.
Mungkin jika kita terus membandingkan, yang kita dapati
adalah kekecewaan. Tapi,
kitalah manusia. Diberkati budi dan daya untuk membandingkan. Kitalah manusia,
diciptakan potensial agar mengaktual. Kitalah manusia yang menderita karena
membandingkan.
Pada saat yang sama, kitalah manusia yang sempurna dengan
membandingkan. Kitalah manusia yang meski menderita dengan membandingkan, tapi
juga mrncapai bahagia dengannya. Kitalah manusia yang membandingkan isi dan
bungkus. Kitalah manusia yang membandingkan baik dan buruk. Kitalah manusia
yang membandingkan hampa dan ada.
Meski raga kita mungkin
jauh lebih kecil dibanding raga kosmos yang amat kompleks, kita tidak
diciptakan untuk takut dan tenggelam di arusnya; kita ada untuk berani dan
berselancar bersama gelombangnya. Karena, kita adalah akal dan akal
adalah jiwa. Kita tidak akan hancur oleh derasnya arus kosmos. Kita hanya akan
dibawanya ke tepian, entah kita sampai di tepian dengan cara tenggelam (tidak
sadar) atau kita berselancar bersamanya (sadar).
Jadi kawan, air kopi terlalu tenang dan gelap. Biar saja dia
habis. Mari sambut air yang jauh lebih besar, deras, bergelombang dan jernih.
Ohya, mungkin kita perlu menggeser pemaknaan kita. Kita
tidak perlu melulu memaknai riuh atau nyepi. Dua-duanya tetaplah aksiden.
Dua-duanya tetaplah bungkus kado. Mari memaknai isi. Mari memaknai akal dan
jiwa. Selama masih ada makna terhadap akal dan jiwa, selama itu pula kita masih
bisa yakin bahwa kita sedang berselancar dalam hidup.
Penulis adalah pegiat
Filsafat Islam


0 Komentar