Kawan, Kitalah Manusia!

Oleh: M. Hazir Rahim
Mungkin kosmos ini memang terlalu luas dan kita memang lebih kecil dari titik di hadapannya. Mungkin hukum kosmos memang terlalu superior dan kita (manusia) - selama ribuan tahun - masih menyentuh kulit luarnya. Mungkin, di tengah kontemplasi, kita akan merasa tak berdaya di hadapan kosmos dan kita memilih tenggelam dalam deras arusnya.

Banyak yang tenggelam. Banyak yang membiarkan dan menikmati dirinya di bawah garis aktual. Sebagian tenggelam dalam keriuhan dan sebagian tenggelam dalam kesenyapan. Riuh dan senyap jadi sama saja. Seperti kado, sebagian membungkusnya dengan kertas bercorak dan sebagian lagi dengan kertas sederhana. Tapi, siapa yang peduli isinya?

Ilustrasi Manusia Yang Bebas. Foto: gsja.org

Kosmos hari ini mungkin seperti kado tanpa isi. Banyak dari kita yang ingin menjadi sesuatu, tapi apapun itu, kita hanya ingin menjadi bungkus kado. Sedikit sekali yang ingin menjadi isi. Lebih sedikit lagi adalah mereka yang bukan hanya jadi isi, tapi jadi isi yang dirindukan oleh pemilik kado.

Mungkin jika kita terus membandingkan, yang kita dapati adalah kekecewaan. Tapi, kitalah manusia. Diberkati budi dan daya untuk membandingkan. Kitalah manusia, diciptakan potensial agar mengaktual. Kitalah manusia yang menderita karena membandingkan.

Pada saat yang sama, kitalah manusia yang sempurna dengan membandingkan. Kitalah manusia yang meski menderita dengan membandingkan, tapi juga mrncapai bahagia dengannya. Kitalah manusia yang membandingkan isi dan bungkus. Kitalah manusia yang membandingkan baik dan buruk. Kitalah manusia yang membandingkan hampa dan ada.

Meski raga kita mungkin jauh lebih kecil dibanding raga kosmos yang amat kompleks, kita tidak diciptakan untuk takut dan tenggelam di arusnya; kita ada untuk berani dan berselancar bersama gelombangnya. Karena, kita adalah akal dan akal adalah jiwa. Kita tidak akan hancur oleh derasnya arus kosmos. Kita hanya akan dibawanya ke tepian, entah kita sampai di tepian dengan cara tenggelam (tidak sadar) atau kita berselancar bersamanya (sadar).

Jadi kawan, air kopi terlalu tenang dan gelap. Biar saja dia habis. Mari sambut air yang jauh lebih besar, deras, bergelombang dan jernih.

Ohya, mungkin kita perlu menggeser pemaknaan kita. Kita tidak perlu melulu memaknai riuh atau nyepi. Dua-duanya tetaplah aksiden. Dua-duanya tetaplah bungkus kado. Mari memaknai isi. Mari memaknai akal dan jiwa. Selama masih ada makna terhadap akal dan jiwa, selama itu pula kita masih bisa yakin bahwa kita sedang berselancar dalam hidup.

Penulis adalah pegiat Filsafat Islam

Posting Komentar

0 Komentar