RISALAH STATION’47; Konsekuensi Kesadaran Bertuhan

ISLAMNET.ID, Jakarta - Pada malam Jum’at, 31 Januari 2019, di Masjid Cilosari, Cikini, tepatnya di sekretariat bersama aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) se-Jakarta mengadakan diskusi perdana dengan tema, “Keniscayaan Kesadaran Bertuhan”. Diskusi ini dilaksanakan oleh studi club STATION’ 47 (Study Club of Islamic Thought and Civilization 47), sebuah kelompok aktivis HMI yang merindukan ghirah keilmuan di tengah hiruk pikuk politik dan sebagainya.

Diskusi perdana STATION 47 ini mengundang pembicara Deni Gunawan yang juga merupakan salah satu Co-Founder islamnet.id. Diskusi yang berlangsung dari pukul 19.30-00.00 Wib berlangsung hangat dan penuh dialektika. Banyak gagasan dan ide-ide baru yang muncul dari tema diskusi tersebut. Setidaknya diskusi di atas dapat diringkas hasilnya sebagai berikut.

Suasanan diskusi 'Konsekuensi Kesadaran Bertuhan, STATION 47. Foto: islamnet.id

Tuhan dan manusia adalah relasi antara Pencipta dengan yang dicipta. Tuhan adalah khaliq sementara manusia adalah makhluk. Karena relasinya adalah antara Pencipta dengan yang dicipta, maka inti dari konsekuensi kesadaran bertuhan adalah penghambaan, yang disebut juga sebagai ketaatan atau taqwa dalam Islam. Tuhan dan manusia terhubung dalam hubungan yang gradasional, artinya secara eksistensi manusia dengan Tuhan pada dasarnya sama. Yang membedakan manusia dengan Tuhannya adalah kualitas. Tuhan adalah waibul wujud li zatihi (wajib dengan sendirinya) sementara manusia adalah wajibul wujud li ghairihi (wajib wujud karena selainnya).

Perbedaan kualitas Tuhan dan kualitas manusia, yang pertama memiliki kualitas yang sempurna sedangkan yang kedua kualitasnya naqish (tidak sempurna). Karena manusia adalah wujud yang naqish maka ia harus senantiasa bergerak dan menuju pada kesempurnaan (Tuhan). Hubungan gradasional ini bisa dicontohkan dengan cahaya lampu bahwa antara cahaya yang berada dekat dengan sumber cahaya akan berbeda kualitasnya dengan cahaya yang jauh dari sumbernya.

Atas dasar ini lah manusia diutus ke muka bumi untuk menjadi wakil Tuhan untuk mengatur dan mengelola alam raya (QS.2:30). Dalam menjalankan fungsi dan perannya di muka bumi ini manusia sering mengambil jalan pintas, dengan mengabaikan pesan dan mandat Tuhan. Sehingga manusia terjerumus pada ketelanjangan spiritual dan moral yang tercela. Tetapi dengan kesadaran bertuhan (QS.7:172) dan keyakinan bahwa ada Yang Maha Mutlak dan Maha Suci serta akan datangnya hari pertanggung jawaban, maka manusia akan terselamatkan dari ketelanjangan spiritual dan moral yang tercela. Kesadaran bertuhan akan melahirkan taqwa (ketaatan). Dengan kesadaran bertuhan yang melahirkan taqwa inilah kemudian akan  “menjadikan manusia baik secara sosial”.

Dalam sejarah nabi Muhammad, nabi menggunakan kalimat syahadat sebagai implementasi konsep dalam membebaskan mustadafin dari penjajahan serta untuk melawan mustakbirin, kalimat persaksian (kalimat syahadat) adalah politik negasi atau dealetika tentang Tuhan yang meruntuhkan imperium politheisme dengan tujuan semangat tauhid, kesadaran bertuhan inilah yang selalu mengkordinir, mengilhami, serta mengorganisir perjuangan nabi Muhammad dalam melawan status quo, belenggu dan penindasan terhadap umat manusia. (Salim/HMI)

Posting Komentar

0 Komentar