Diskusi
perdana STATION 47 ini mengundang pembicara Deni Gunawan yang juga merupakan
salah satu Co-Founder islamnet.id. Diskusi yang berlangsung dari pukul
19.30-00.00 Wib berlangsung hangat dan penuh dialektika. Banyak gagasan dan
ide-ide baru yang muncul dari tema diskusi tersebut. Setidaknya diskusi di atas
dapat diringkas hasilnya sebagai berikut.
![]() |
| Suasanan diskusi 'Konsekuensi Kesadaran Bertuhan, STATION 47. Foto: islamnet.id |
Tuhan
dan manusia adalah relasi antara Pencipta dengan yang dicipta. Tuhan adalah
khaliq sementara manusia adalah makhluk. Karena relasinya adalah antara
Pencipta dengan yang dicipta, maka inti dari konsekuensi kesadaran bertuhan
adalah penghambaan, yang disebut juga sebagai ketaatan atau taqwa dalam Islam. Tuhan
dan manusia terhubung dalam hubungan yang gradasional, artinya secara
eksistensi manusia dengan Tuhan pada dasarnya sama. Yang membedakan manusia dengan Tuhannya adalah
kualitas. Tuhan adalah waibul wujud li zatihi (wajib dengan sendirinya)
sementara manusia adalah wajibul wujud li ghairihi (wajib wujud karena
selainnya).
Perbedaan kualitas Tuhan dan kualitas manusia,
yang pertama memiliki kualitas yang sempurna sedangkan yang kedua kualitasnya naqish
(tidak sempurna). Karena manusia adalah wujud yang naqish maka ia harus
senantiasa bergerak dan menuju pada kesempurnaan (Tuhan). Hubungan gradasional
ini bisa dicontohkan dengan cahaya lampu bahwa antara cahaya yang berada dekat
dengan sumber cahaya akan berbeda kualitasnya dengan cahaya yang jauh dari
sumbernya.
Atas
dasar ini lah manusia diutus ke muka bumi untuk menjadi wakil Tuhan untuk
mengatur dan mengelola alam raya (QS.2:30). Dalam menjalankan fungsi dan
perannya di muka bumi ini manusia sering mengambil jalan pintas, dengan
mengabaikan pesan dan mandat Tuhan. Sehingga manusia terjerumus pada
ketelanjangan spiritual dan moral yang tercela. Tetapi dengan kesadaran
bertuhan (QS.7:172) dan keyakinan bahwa ada Yang Maha Mutlak dan Maha Suci serta
akan datangnya hari pertanggung jawaban, maka manusia akan terselamatkan dari
ketelanjangan spiritual dan moral yang tercela. Kesadaran bertuhan akan
melahirkan taqwa (ketaatan). Dengan kesadaran bertuhan yang melahirkan taqwa
inilah kemudian akan “menjadikan manusia
baik secara sosial”.
Dalam
sejarah nabi Muhammad, nabi menggunakan kalimat syahadat sebagai implementasi
konsep dalam membebaskan mustadafin dari penjajahan serta untuk melawan mustakbirin,
kalimat persaksian (kalimat syahadat) adalah politik negasi atau dealetika
tentang Tuhan yang meruntuhkan imperium politheisme dengan tujuan semangat
tauhid, kesadaran bertuhan inilah yang selalu mengkordinir, mengilhami, serta mengorganisir
perjuangan nabi Muhammad dalam melawan status quo, belenggu dan
penindasan terhadap umat manusia. (Salim/HMI)


0 Komentar